Senin, 05 April 2010

SEJARAH PERJALANAN DAN PERKEMBANGAN ORANG CINA DI BUMI BORNEO – 2

Posted by on Feb 17th, 2010 and filed under SEJARAH. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

yohansen cerita dayak, china, sampokong semarangOleh : Yohansen
Cerita Sebelumnya klik disini

Tahun 1795, Tai-Ko Lo Fong meninggal dunia di Mandor. Dimakamkan di bukit Sak Dja. Mandor disebut orang China Toeng Ban Lit. artinya Daerah Timur yang mempunyai 10.000 Undang-undang. Dengan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Republik Lan Fong ini, cita-cita mendirikan sebuah kerajaan China di luar Tembok Negara Leluhurnya yang bernaung di bawah dinasty kekaisaran tidak berhasil. Tetapi Republik Lan Fong sempat mengirim upeti kepada kaisar, bukan kepada Sultan atau Penembahan Pontianak atau Mempawah.

Tahun 1795, Sambas dibawah pimpinan/pemerintahan Pangeran Abom. Sesama perkongsian China berkobar pertempuran antara Tai Kong kongsi yang berpusat di Montrado dengan Sam Tiu Kiu Kongsi yang berpusat di Sambas. Pertempuran ini terjadi dikarenakan pihak Sam Tiu Kiu melakukan penggalian mas di Sei Raya (Singkawang) daerah kekuasaan Tai Kong kongsi. Pihak Sam Tiu Kiu Kongsi (Suku Hokkian) minta bantuan kepada Sultan Sambas serta Rakyat Sambas dengan berjanji dab bersumpah; Setia dan tidak akan mendurhaka kepada Sultan dan Rakyat Sambas.

Tahun 1796, dengan bantuan Sultan Sambas dan Rakyat Sam Tiu Kiu Kongsi dapat mengalahkan Montrado. Seorang Panglima Sultan yang bernama Tengku Sambo mati terbunuh ketika menyerbu benteng terakhir Tai Kong Kongsi. Perang ini oleh rakyat Sambas di sebut sebagai perang Tengku Sambo.

Tahun 1818 (6 September) bendera Belanda tiga warna, berkibar di Sambas. Muller dilantik sebagai Pejabat Residen Sambas (23 September). Residen Muller mengumumkan dan memerintahkan kepada kepala-kepala China bahwa Montrado menurut perjanjian dengan Sultan menjadi dibawah kekuasaan Pemerintahan Belanda (24 September). Residen Muller mangadakan rapat dengan kepala-kepala Kongsi, orang-orang China di Sambas.

Tahun 1819, orang China Mandor sebanyak 1.000 orang menyerang Kongsi Belanda di Pontianak dalam rangka merebut kekuasaan Belanda di seluruh Borneo (Kalimantan) Barat. Serangan China ini dapat dihancurkan Belanda secara pura-pura mengaku kalah. Kapten China dari Mandor (Panglima Tjap) minta maaf, bukan kepada Belanda, tetapi kepada Sultan Pontianak dan mengatakan tidak mau bermusuhan atau mengakui kekuasaan Pemerintahan Belanda.

Orang-orang China mengumpulkan uang untuk membeli kepala Residen. Dan satu Takil mas tiap kepala orang Belanda. Residen Pontianak menarik semua pejabat Belanda dan kekuatan-kekuatan dari Tayan, Landak dan Mempawah ke Pontianak.

Tahun 1822 (22 September), diumumkan hasil perundingan segitiga antara Sultan Pontianak, Pemerintahan Belanda dan Kepala-Kepala China yang terdiri dari 29 pasal.

Tahun 1823, Tai Kong Kongsi mengadakan pemberontakan terhadap Belanda, karena merasa hasil perundingan merugikan pihaknya. Sebelumnya, merampas dan menguasai Lara daerah Sin Ta Kiu (Sam Tiu Kiu) yang berkedudukan di Sambas.

Belanda di bantu oleh Sam Tiu Kiu dan orang-orang China di Sambas. Akhirnya Tai Kong Kongsi dapat dihancurkan dan diusir dari pertahanan mereka dan berturut-turut Sebalou, Lara Tai Kong dan Sepang mereka tinggalkan dan mundur ke Montrado.

Tanggal 5 maret, penduduk China yang memberontak menyatakan minta ampun kepada Pemerintahan Belanda dan menyerahkan alat-alat persenjataannya.

Tanggal 11 Mei, Commisaris Belanda mengeluarkan peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban dari Kongsi-Kongsi.

Tai Kong, Hang Moei, Sin Foek dan Man Fo. Diadakan pemilihan pemimpin baru, Asia China dengan nama Kapitan, yang bersumpah setia dan tunduk kepada Pemerintahan Belanda yang berbunyi:
“Pada hari ini di dalam Klenteng SAMBONYA yang akan menghukum siapa yang salah. Orang-orang China dan Kongsi-kongsi Tai Kong, Sin Foek, Han Moei dan Man Fo, bersumpah sebagai berikut: Dulu kami tidak menurut perintah dari Pemerintah dan oleh karenanya kami mendapat kecelakaan besar. Sekarang kami mendapat ampun dari Commisaris atas keselamatan kami, oleh karena itu kami semua akan turut perintah tidak berani melawan Perintah. Kalau sumpah ini tidak kami taati, SAMBOJAN akan menghukum mati, kami akan mati dan badan kami tidak dikuburkan, dan anak istri, keluarga kelak tidak pernah lihat kami”.

Tahun 1850, kerajaan Sambas di bawah pimpinan Sultan Abubakar Tadjudin II. Seluruh perkongsian tambang/parit mas yang terdapat dalam kerajaan Sambas, yaitu: Tai Kong Kongsi, Sam Tiu Kiu dan Mang Kit Tiu Kongsi bergabung untuk memberontak merebut dan menaklukan kerajaan Sambas. Adapu daerah tambang/ parit mas perkongsian dan pusat-pusat kekuasaan pada saat itu antara lain berada di Pemangkat, Seminis, Sebawi, Bengkayang, Lara, Humar, Montrado dan Budok. Kota Sambas hampir jatuh ketangan perkongsian. Sultan Sambas meminta bantuan kepada pihak Belanda.

Tahun 1851, Kompeni Belanda tiba di bawah pimpinan Overste Zorg, dan gugur dalam sautu pertempuran takala merebut benteng pusat pertahanan dari pihak Sam Tiu Kiu di Seminis Pemangkat. Ia pun dimakamkan di atas bukit Penibungan, Pemangkat.

Tahun 1854, pemberontakan makin meluas di seluruh daerah dan perkongsian yang mendapat bantuan dari seluruh bangsa China yang diluar perkongsian. Belanda pun akhirnya mengirim tambahan pasukan ke Sambas yang dipimpin oleh Residen Anderson.

Tahun 1856, seluruh kekuasaan dan pertahanan dari Kongsi-Kongsi tambang/parit mas direbut oleh Kompeni Belanda, juga pusat-pusat kekuasaan kongsi yang berada di Montrado. Seluruh orang China menyerah dan takluk kepada Kompeni Belanda. Oleh Sultan Sambas, bangsa China yang berdiam dalam daerah kekuasaan dan daerah hukum kerajaannya, disarankan menjadi rakyat Hindia Belanda. Dengan demikian berakhirlah riwayat Republik Montrado sebagai negara dalam negara. Yang mana telah berkuasa selama 100 tahun, di dalam daerah kekuasaan dan daerah hukum kerajaan Sambas.

Tanggal 1857, 4 Januari, semua kekuasaan China terhadap Kongsi-Kongsi Mempawah ditarik oleh Belanda dan berada langsung di bawah kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda.

Tahun 1884, Kongsi-Kongsi tambang/parit mas China diseluruh daerah Borneo (Kalimantan) Barat dibubarkan oleh Belanda.

Dengan demikian secara resmi berakhirlah dan lenyaplah Republik FOW SJOEN dan REPUBLIK LAN FONG MAN dan beralih ketangan Belanda. (Republik LAN DONG MANDOR berkuasa selama 107 tahun, dan REPUBLIK MONTRADO 100 tahun).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar